Baderi, S.Sos., M.E.[*]
Manusia pada setiap saat akan dihadapakan pada permasalahan-permasalahan baik yang menurut sifatnya berat maupun ringan. Setelah menyelesaikan satu permasalahan tidak lantas selesai dan bisa berleha-leha santai untuk beberapa lama. Tidaklah demikian, masalah baru akan datang sekonyong-konyang dan silih berganti. Jika dimaknai secara mendalam bahwa masalah yang datang bertubi-tubi dan setiap saat pada hakekatnya bukan musibah, namun jika diterima dan dipahami maka akan sampai pada kesimpulan bahwa setiap permasalahan yang datang tersebut adalah ujian. Tentulah ujian-ujian tersebut merupakan tangga kehidupan menuju kedewasaan dan kebahagian.
Setiap orang pasti menghendaki kebahagiaan. Tidak satupun manusia didunia ini mengharapkan kesusahan, kegelisahan, ketidaktenangan dalam menjalani hidup. Disini titik krusial bagaimana manusia memaknai hidupnya, memaknai setiap masalah, memaknai setiap fenomena kehidupan yang penuh dengan onak dan duri. Manusia memandang segala sesuatu menurut persepsinya. Sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. Satu sudut pandang yang dipaksakan akan menghasilkan persepsi yang sempit dan sektoral. Namun inilah kebanyakan manusia, meyakini sesuatu menurut sudut pandangnya sendiri tanpa menhiraukan sudut pandang yang holistik atau menyeluruh.
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia mempunyai nilai-nilai hidup yang di anut, norma-norma yang diikuti, tokoh-tokoh yang menjadi patron dirinya, dan celakanya mengikuti nilai-nilai hawa nafsunya. Nilai-nilai yang sifatnya holistik dan menyeluruh tertuang dalam kitab suci masing-masing agama, namun inipun bisa menjadi perbedaan cara pandang terhadap suatu masalah. Nah… nilai-nilai inilah yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu masalah.
Nilai-nilai, norma-norma, sesuatu yang dianut dan terlembaga dalam institusi mensiratkan cita-cita luhur dan sempurna. Cita-cita merupakan suatu keinginan atau kehendak dengan angan-angan jauh kedepan tentang stuasi dan kondisi yang sempurna/ideal. Cita-cita luhur yang melembaga dalam dalam hati ataupun institusi dan menjadi sebuah paham bagi manusia disebut sebgai idealisme.
Idealisme
Idealisme yang ada pada diri manusia merupakan proses interaksi yang cukup panjang melalui internalisasi nilai-nilai pada institusi pendidikan, diskusi-diskusi, seminar-seminar, dan lain-lain. Internalisasi dilakukan secara sadar maupun tidak sadar diawali dengan proses membaca, memahami, menghayati, dan melaksanakannya. Ketika nilai-nilai telah bersemayam dalam diri manusia maka dengan sekuat tenaga akan dijabarkan dalam perilaku seahari-hari. Type manusia yang dengan teguh memegang nilai-nilai luhur dan mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai orang yang idealis atau dalam bahasa lain dikatakan sebagai orang yang fundamentalis.
Setelah mengetahui uraian tersebut di atas, maka kita tahu bahwa orang-orang yang dianggap idealis atau fundamentalis selalu memperjuangkan nilai-nilai luhur yang hendak diaplikansikannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur yang sempurna dan ideal dapat diinternalisasi pada diri manusia hingga menjadi suatu paham atau isme. Hal inilah yang kemudian menjadi suatu istilah idealisme, yaitu suatu paham yang menganggap bahwa nilai-nilai luhur, baik, benar menjadi cita-cita yang selalu diusahakan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. sebagai satu-satunya hal
Idealisme sesungguhnya menuntut adanya konsistensi. Setiap intitusi menuntut kepada pengikutnya untuk konsisten memperjuangkan nilai-nilai luhur yang menjadi cita-citanya. Konsistensi menjadi penting karena akan meneguhkan keberlanjutan nilai-nilai luhur yang dicita-citakan. Nilai-nilai luhur tersebut dapat berbentuk dalam regulasi-regulasi baik undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden ataupun peraturan menteri.
Sedikit menengok institusi legeslatif yang mendapat amanat undang-undang dasar sebagai lembaga penyusun undang-undang baik usulan pemerintah mupun usulannya sendiri. Sesungguhnya produk undang-undang merupakan hasil konsensus dari seluruh elemen masyarakat melalui perwakilannya masing-masing. Hakekatnya konsensus terbentuk melalui proses panjang perjuangan nilai-nilai luhur masing-masing elemen masyarakat tersebut. Setiap elemen masyarakat memegang teguh nilai-nilai yang dianunya, sehingga perbedaan idealisme dapat mengakibatkan terjadinya benturan disana-sini. Wajar memang sebuah undang-undang dibahas dalam waktu yang lama karena harus menyesuaikan idealisme masing-masing, dimana setiap idealisme membawa kepentingannya sendiri-sendiri.
Realitas
Realitas kehidupan menunutut adanya kecepatan dan ketepatan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi. Target-target pekerjaan yang demikian singkat menjadikan orang seakan menjadi robot-robot ditengah kota yang terus-menerus bekerja. Tuntutan produktifitas yang tinggi dengan input yang rendah merupakan penetrasi yang diingikan pelaku-pelaku ekonomi. Realitas kehidupan yang bergerak dengan cepat dengan himpitan dan tuntutan disana sini membuat orang berpikir praktis dan mudah.
Berpikir cepat, mudah dan praktis menjadi pilihan bagi sebagian besar perusahaan, pengusaha bahkan merampah dikalangan birokrasi. Hal ini sejatinya bukan tren baru-baru ini, namun sudah menjadi budaya yang bertahun-tahun dijalani dan dilaksanakan. Berpikir dan bertindak cepat, mudah dan praktis sesuai dengan perturan dan prosedur yang benar merupakan prestasi yang sungguh diharapkan semua pihak. Pelayanan yang mudah, cepat dan praktis dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.
Kualitas pelayanan dapat dinilai dari kecepatan, ketepatan, kemudahan dan tidak berbelit-belit. Indikator ini sebenarnya tidaklah sulit untuk diketahui, karena setiap orang menghendaki adanya kemudahan dan kecepatan dalam mendapatkan pelayanan apapun. Kecepatan dan ketepatan dalam pelayanan tentunya tetap dalam kerangka kontrol birokrasi yang baik dan dewasa. Tetap tidak mengada-ada dan memudah-mudahkan, ada diskriminasi dan menghambat dan moralitas yang baik dan terkendali.
Pelayanan yang baik pada birokrasi menjadi dambaan setiap warga negara, namun celakanya belum semua birokrasi berpikir dan bertindak cepat, tepat dan praktis dalam pelaksanaan pelayanan. Pelayanan cepat diberikan kepada mereka yang telah memberikan angpaow, pelicin atau sogokan terlebih dahulu kepada birokrat yang melayaninya. Pelayanan cepat diberikan kepada teman sejawat, saudara dekat, kelompoknya dam mediskriminasi orang-orang tertentu. Bertindak cepat dan praktis dengan melanggar kode etik, peraturan dan ketentuan yang berlaku serta merugikan berbagai pihak.
Birokrasi seperti itu, ternyata sebagian besar ada ditengah-tengah dan disekitar kita. Sedikit sekali birokrasi yang mau tulus ikhlas melayani masyarakat. Birokrasi bak raja yang justeru ingin dilayani oleh masyarakta yang sejatinya harus melayani masyarakat yang sedang dalam kesulitan, melayanai masyarakat dalam memperbaiki kehidupannya, melayani masyarakat yang ingin bangkit dari keterpurukan ekonominya, melayani masyarakat yang ingin memberdayakan dirinya sendiri. Birokrasi sejatinya menjadi katalis, menjadi pendorong masyarakat untuk berdaya dengan mempermudah perijinan, mempermudah prosedur, memberantas premanisme dan justeru bukan menjadi preman legal yang menjegal masyarakat dengan pungutan-pungutan liar yang berkedok biaya administrasi. Dan menjadi kesedihan bersama bahwa birokrasi Indonesia sebagian besar masih seperti itu dan menjadi realita kehidupan saat ini.
Pragmatisme
Kehidupan nyata yang riil ataupun empiris terkadang bertentangan dengan konsep atau teori yang diterima pada institusi pendidikan. Banyak orang menganggap bahwa teori merupakan isapan jempol bahkan mencibir bahwa teori tidak berguna dan tidak diperlukan. Pandangan seperti ini mengabaikan arti kebenaran yang telah diuji sebelumnya atau justeru mereka ini tidak pernah tahu bagaimana teori itu dilahirkan. Sekedar mengurai kembali bahwa ilmu dilahirkan dari proses analisi dengan metode tertentu dan merupakan generalisasi dari variasi nilai dunia empiris. Generalisasi diuji dari tahun ketahun oleh para ahli maupun peneliti-peneliti hingga generalisasi tersebut diakui kebenarannya. Jika generalisasi yang berwujud rumus, statement, pernyataan, metode tertentu telah diuji kebenarnya oleh para ahli bertahun-tahun dan diakui kebenarnya maka dapat menjadi sebuah ilmu pengetahuannya. Relevansinya kemudian bahwa teori sesungguhnya mempermudah orang dalam bekerja pada dunia praktis dan memberikan petunjuk tentang apa-apa yang ada dalam permasalahan sehari-hari.
Agak cukup menyedihkan jika ada yang sudah mengetahui teorinya tetapi karena alasan teknis, praktis atau lebih mudah kemudian mengenyampingkan teori. Dalam lingkungan birokrasipun hal seperti ini cukup disayangkan juga. Banyak birokrat yang mengetahui peraturan, mekanisme dan prosedur yang benar namun mengabaikannya untuk lebih praktis dan teknis. Lebih mengerikan lagi jika hal tersebut dilakukan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan demi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Tindakan seperti ini yang dinamakan menyelewengkan kewenangannya dan termasuk dalam tindak pidana korupsi. Ternyata birokrat menjalankan aksinya tersebut tidak sendirinya namun menggunakan tangan-tangan anak buahnya atau tangan-tangan lainnya untuk menghulangkan jejaknya.
Inilah salah satu sisi realitas yang terjadi, adanya irisan antara idealisme dan realitas kehidupan yang bersifat praktis dan cenderung memudah-mudahkan, mempercepat, menyelewengkan norma-norma positif yang ada. Irisan disatu sisi penuh idealisme dan satu sisi penuh dengan pragmatisme membentuk daerah yang abu-abu. Ada beberpa type orang dalam menyikapi kondisi seperti ini.
Pertama, type pragmatis setelah mengetahui bahwa realitas pekerjaan dapat dipermainkan dengan aman demikepentingan pribadi maupun golongan. Type seperti ini mengikuti arus utama dalam perhelatan yang terjadi dalam institusi birokrasi, perusahaan, legislatif maupun yudikatif. Aksi tipu-tipu, manipulasi, menerima suap maupun upeti merupakan budaya yang biasa dalam kamus hidupnya.
Kedua, type frontal yaitu tetap keras pada pendirian dan idealismenya dengan memperjuangkan nilai-nilai dan cita-citanya secara konsisten. Kecenderungan yang dilakukan adalah bersikap keras terhadap penyelewengan yang ada disekitarnya. Resiko yang dihadapinya adalah adanya upaya-upaya orang lain untuk mendiskriditkanya, memojokannya bahkan dikucilkan dari lingkungannya. Jika yang bersangkutan memiliki gerbong, maka gerbongnyapun tak alan luput dari upaya-upaya untuk dihancurkan arus utama.
Ketiga, type moderat yaitu pertengahan dalam menyikapi lingkungannya yang pada umumnya pragmatis. Type ini berupaya tetap mengikuti budaya yang ada dengan benteng moralitas dan idealisme yang menjadi cita-citanya. Misalnya, Jika mendapat uang-uang yang tidak jelas sumbernya namun secar sistem yang ada diperbilehkan maka sikap yang diambil tapi tidak dikomsumsi sendiri melainkan menyalurkan kepada lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan. Type seperti ini menghendaki adanya perbaikan terus menerus dengan cara-cara yang elegan tanpa ada benturan yang keras disana-sini.Type seperti ini menghendaki adanya perbaikan terus menerus dengan cara-cara yang elegan tanpa ada benturan yang keras disana-sini. Berupaya tetap solid bersama orang-orang yang ingin perbaikan melalui proses yang dapat diterima kalangan baik yang pragmatis maupun frontal.
Langkah moderat inilah yang kemudian dipilih oleh sebagian orang yang ingin melakukan reformasi secara bertahap tapi pasti. Proses-proses diskusi dan lobi-lobi yang cukup lama dan melelahkan dijalaninya. Fitnah-fitnah menjadi bunga-bunga di dalam reformasi sekaligus menjadi bahan instrospeksi bagi orang-orang yang bertype moderat ini. Akhirnya kita sama-sama berharap bahwa perbaikan menuju kehidupan yang baik dengan tata kepemerintahan yang baik, akuntabel, transparan, melayani rakyat, menjadi katalisator dapat dilakukan melalui proses yang elegan, damai, dan menyejukan.
Wah manteb bener nih tulisan nya Pak Baderi, mendalem banget Pak, emang yang penting alon alon asal kelakon Pak, asal jangan sampe terpengaruh godaan, sehingga tujuan utama reformasi tetep tercapai..
Makasih Pak Edi…. banyak orang yang menjadi pragmatis ketika mereka dihadapkan pada “kesempatan” yang begitu menggiurkan meskipun pada awalnya tidak ada “niat” sama sekali. ketika jadi mahasiswa menggebu-gebu ingin melakukan reformasi, namun setelah mendapatkan “Kursi” yah sama saja bahkan menjadi pragmatis, kecuali hanya sedikit saja yang masih Idealis. Benteng Idealisme adalah adalah keyakinan yang seyakin-yakinnya pada Allah Tuhan yang Maha Mengetahui selalu menyaksikan perbuatan kita. Mudah-mudahan kita tetep idealis…. amin..
saya bisa belajar dari sini nih…
salam kenal nggih pak Baderi…
Sip… sama-sama belajar untuk memaknai hidup dengan idealisme yang luhur.
Subhanallah bagus bgt mas tulisannya. Memang untuk memegang teguh idealisme bukanlah semudah mengedipkan kelopak mata, namun tetap harus diperjuangkan secara moderat terlebih bagi saya yang bekerja di tempat ‘abu-abu’.
Syukron atas ilmunya mas…
Betul… Memegang idealisme memang tidak mudah butuh keteguhan hati untuk mempertahankan idealisme. Memang lebih mudah “menggadaikan” dan menukarnya dengan kemewahan dunia.
wah bagus banget bad bisa mengingatkan kembali gimana kita harus bersikap. ditunggu tulisan2 berikutnya. kayaknya udh cocok dlantik nehh……
idealisme itu ibarat tanaman yang tumbuh dan berkembang, suatu saat kita tidak menyiraminya, tidakmerawat dan memberinya pupuk, dengan sendirinya ia akan mati.
Kalau semua orang berlaku moderat, lantas siapa yang akan mengawali perubahan, Pak?
Lebih banyak yang moderat jadi pragmatis daripada yang pragmatis jadi moderatkan?
Makasih Pak Baderi, Mudah2an tidak ada karangan bunga yang bertuliskan ” Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Idealisme Kita.”
mudah-mudahan bisa berkelanjutan dan terus tetep berketeguhan hati terus… mohon diingatkan selalu kalo salah. makasih Me’..
#Cakra# idealisme itu ibarat tanaman yang tumbuh dan berkembang, suatu saat kita tidak menyiraminya, tidakmerawat dan memberinya pupuk, dengan sendirinya ia akan mati.
Idealisme tentunya dijaga dan dirawat tidak sendirian tetapi haruslah secara bersamaan. Jika idealisme mulai layu maka teman-teman seperjuangan segeralah mengingatkan sehingga kembali bergairah lagi. kesendirian dapat mematikan semangat, lagi pula jika jatuh dan layu maka akan berat untuk bangkit kembali.
#cakra# Kalau semua orang berlaku moderat, lantas siapa yang akan mengawali perubahan, Pak?
Kita tak berharap pada para pragmatis untuk melakukan perubahan. Yang kita harapkan adalah orang yang moderat dan frontal. Dimana jika keduannya bekerja sama maka akan ada perubahan. Namun perlu ada usaha yang cukup besar karena penganut pragmatisme akan jauh lebih besar jumlahnya. Tetapi sejarah membuktikan yang sedikit bisa mengalahkan yang besar.
#Cakra# Lebih banyak yang moderat jadi pragmatis daripada yang pragmatis jadi moderatkan?
Mungkin anda bisa kasih tahu kita… berapa jumlah bahwa yang moderat jadi pragmatis?
dan berapa banyak yang pragmatisd jadi moderat?
#cakra# Makasih Pak Baderi, Mudah2an tidak ada karangan bunga yang bertuliskan ” Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Idealisme Kita.”
Kita berdoa “turut bersuka cita atas bangkitnya idealisme”. Rakyat sudah terlalu muak dengan janji-janji yang tak ditepati. Rakyat terlalu sering diingkari dan menjadi terpinggirkan, termiskinkan, tergusur, ter PHK oleh kebijakan-kebijakan publik yang tidak pro poor.
makasih …
Pak Baderi,,tulisannya bagus dan penuh makna
Menambah wawasan juga walaupun memang masih ada yang bingung juga nieh Pak
Tp aku mhon bimbingannya y pak
Ow iya Pak kalau diskusi tentang TA boleh tidak Pak?
birokrat di indonesia didukung oleh gaji negara, sehingga ada istilah kerja tidak kerja tetap digaji. Hal ini mengakibatkan pelayanan kepada masyarakat akan berkurang, karena tidak masalah bagi mereka, masyarakat puas atau tidak ,mereka tetap digaji. Mungkin ini yang menyebabkan sikap idealis(kaku akan prosedur) masih cenderung mereka junjung tinggi.
lain halnya dengan swasta, orientasi pada pelanggan, jadi pelayanan mereka harus yang terbaik, karena gaji mereka dari pelanggan. sikap mereka cenderung pragmatis(meski melanggar prosedur) demi kebaikan pelanggan.
mari menuju ke perbaikan ke Indonesia yang lebih baik dengan menjadi kaum moderat, dimana mengambil sisi positif dari idealis dan pragmatif, dengan dibentengi oleh agama.