Oleh: Suwardiman
Kompas, 24 Maret 2008
Antusiasme publik Jawa Barat tampak menonjol menyambut penyelenggaraan pemilihan gubernur yang akan diselenggarakan 13 April mendatang. Sebanyak 73 persen responden yakin, pilkada langsung untuk pertama kali di provinsi ini akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
Optimisme publik tergambar dari hampir 95 persen responden jajak pendapat Kompas yang menyatakan berniat untuk memberikan suara dalam hajatan demokrasi di daerah Jawa Barat bulan depan. Bahkan, sebanyak 64,5 persen responden menyatakan sudah menetapkan pasangan yang akan mereka pilih.
Lewat pilkada, publik berharap muncul sosok pemimpin yang memahami dan memiliki solusi bagi problem sosial ekonomi yang mengimpit masyarakat. Ketika ditanya kualitas pemimpin seperti apa yang harus dimiliki Gubernur Jawa Barat selama lima periode mendatang, sedikitnya 35,7 persen responden menyebut sosok yang memiliki kepedulian yang besar terhadap kepentingan rakyat, sementara 32,5 persen lainnya menyebutkan tokoh yang jujur dan bebas dari korupsi.
Publik juga menyimpan harapan besar bahwa gubernur terpilih nanti akan membawa angin perubahan. Namun, untuk urusan pemberantasan korupsi masih cukup banyak masyarakat yang gamang. Sebanyak 42,9 persen responden meragukan pemimpin baru akan mampu mendorong pemberantasan korupsi.
Strategi politik
Jika menelisik peta politik di Jawa Barat, dengan berkaca pada hasil Pemilu 2004 di 25 kabupaten/kota, pasangan Danny Setiawan-Iwan Ridwan Sulanjana memiliki peluang yang cukup besar. Pasangan ini diusung partai berlambang beringin yang berkoalisi dengan Partai Demokrat.
Provinsi Jawa Barat ialah salah satu basis Partai Golkar pada Pemilu 2004. Golkar menguasai perolehan suara di 18 daerah dari 25 kabupaten/kota di Jawa Barat. Sementara PDI-P dan PKS masing-masing menguasai 3 kabupaten/kota, sedangkan PPP unggul di satu daerah, yakni Kota Tasikmalaya.
Namun, perhitungan matematis di atas kertas dalam memprediksi hasil pilkada langsung sering kali termentahkan oleh sejumlah faktor lain. Realitas politik pada sejumlah pilkada di daerah lain menunjukkan bahwa pendekatan kemenangan parpol saat pemilu legislatif tidak serta-merta dapat dijadikan alat ukur yang akurat dalam memprediksi kemenangan calon kepala daerah.
Koalisi antarsesama partai berhaluan nasionalis bisa saja kontraproduktif untuk menggalang massa. Demikian juga koalisi yang dijalin oleh sesama partai berhaluan agama, bisa lemah dalam menggalang massa. Dalam Pilkada Jawa Barat, pasangan Danny-Iwan adalah cerminan koalisi antarsesama partai nasionalis. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf mencerminkan perpaduan koalisi sesama partai berbasis massa Islam. Di antara kedua polarisasi ini, pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim berpotensi untuk diuntungkan karena memadukan dua kekuatan nasionalis dan agama.
Meski demikian, mayoritas responden (74,8 persen) menyatakan calon kepala daerah yang akan dipilih tidak harus sama dengan partai pilihan mereka. Hanya 23,4 persen responden yang menyatakan idealnya sama. Publik berpendapat, kualitas yang dimiliki calon kepala daerahlah yang akan menentukan pilihan mereka. Lebih dari 80 persen responden menyatakan tingkat pendidikan dan pengalaman kepemimpinan di organisasi/partai para calon akan menjadi pertimbangan utama.
Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa pengenalan publik terhadap dua dari tiga kandidat cukup tinggi. Untuk Danny Setiawan, 82,4 persen responden menyatakan tahu bahwa jabatan Danny sebelumnya adalah Gubernur Jawa Barat. Sementara 86,8 persen responden menyatakan tahu bahwa Agum Gumelar adalah mantan Menteri Perhubungan. Di sisi lain, pengenalan publik terhadap Ahmad Heryawan cukup rendah. Hanya 33,1 persen responden yang menyatakan tahu bahwa Heryawan adalah anggota DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009.
Sipil-militer
Kombinasi pasangan yang berlatar belakang sipil-militer tampaknya menjadi warna yang cukup menonjol sebagai strategi pemenangan suara dalam Pilkada Jawa Barat. Dua dari tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung adalah perpaduan sipil-militer. Mereka adalah Danny Setiawan-Iwan Ridwan Sulanjana dan Agum Gumelar- Nu’man Abdul Hakim, sebagai pasangan nomor urut satu dan dua.
Pasangan Danny-Iwan diusung oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat. Sedangkan Agum-Nu’man diusung PDI-P, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Bulan Bintang, Partai Karya Peduli Bangsa, dan Partai Damai Sejahtera.
Pasangan nomor urut tiga yang diusung koalisi Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional berupaya menempatkan sosok populer dari kalangan selebriti yang juga anggota DPR, Dede Yusuf, sebagai calon wakil gubernur yang dipasangkan dengan Ahmad Heryawan.
Pasangan terakhir yang keduanya dari generasi muda bisa saja mencuri suara dari kelompok pemilih muda. Baik Ahmad Heryawan maupun Dede Yusuf pada tahun ini baru berusia 42 tahun. Namun, kondisi ini bisa juga menjadi bumerang karena keduanya dinilai belum terlalu matang di dunia politik.
Namun, sekali lagi, realitas politik dalam pilkada sering kali berbeda dari hitungan di atas kertas.
URL Source: http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.24.00371137&cha
Suwardiman
Litbang Kompas