| Oleh: Ivan A. Hadar
Sindo, 28 Pebruari 2008 |
||
|
|
||
| Pemerintah telah memutuskan penghematan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik masing-masing Rp10 triliun.Dana itu akan dialihkan untuk memuluskan program stabilitas harga kebutuhan pangan yang melonjak-lonjak.
Kenyataannya, subsidi energi memang sudah kelewatan. Dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P 2008),subsidi energi tercatat Rp161,2 triliun,terdiri atas subsidi BBM Rp106 triliun dan subsidi listrik Rp55 triliun.Nilai itu dengan patokan harga minyak USD83 per barel.Keadaan makin runyam. Kabar negaranegara anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) memangkas produksi membuat harga minyak terbang.Dua pekan lalu,emas hitam di New York Mercantile Exchange mencapai USD101,32 per barel, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Di London, harga juga menjulang ke USD98,82 per barel.Program diet memang tak bisa ditunda-tunda lagi. Namun, karena sudah janji, menaikkan harga jelas bukan pilihan.Tahun lalu,saat harga emas hitam ini melejit nyaris menyentuh USD100 per barel,Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) pernah mengatakan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM.Pembatasan pemakaian bahan bakar bersubsidi yang jadi pilihan. Pemerintah berencana membatasi pemakaian bensin, solar, dan minyak tanah yang dianggap sebagai langkah realistis dengan risiko minimal.Urusan minyak tanah tinggal meneruskan program yang sudah berjalan melalui kartu kendali terbuka yang sasarannya warga miskin dan program konversi ke gas elpiji. Adapun pembatasan premium dan solar bagi kendaraan akan menggunakan smart card alias kartu pintar.Pada bagian kartu ini ada chip pengendali yang menunjukkan kuota BBM bersubsidi. Sebenarnya, untuk mengatasi krisis anggaran cukup santer suara yang menuntut pengurangan utang luar negeri. Sayangnya,usulan ini masih jauh dari perhatian pemerintah. Jangka menengahnya adalah giat mengupayakan pemanfaatan energi alternatif. Bagi negeri tropis seperti Indonesia, salah satu energi alternatif yang tak terbatas adalah sinar matahari. Saat ini,energi sinar matahari yang dipancarkan ke planet bumi, 15.000 kali lebih besar dibandingkan penggunaan energi global dan 100 kali dibandingkan cadangan batu bara, gas, dan minyak bumi. Sementara teknologi mutakhir telah mampu mengubah 10–20% pancaran sinar matahari tersebut menjadi energi. Secara teoretis,untuk mencukupi kebutuhan energi global, penempatan peralatan tersebut hanya memerlukan kurang dari 1% permukaan bumi.Sebuah besaran yang jauh lebih kecil dibandingkan lahan yang dibutuhkan bendungan pembangkit tenaga listrik. Sayangnya,meski Indonesia memiliki energi matahari berlimpah berikut seabrek kelebihannya,toh pemanfaatannya saat ini masih sangat minim. Ironisnya pula, negara-negara di belahan utara yang relatif miskin matahari lebih banyak memanfaatkan sumber energi terbarui yang ramah lingkungan dan aman ini dibandingkan kita di kawasan tropis. Mulanya sumber energi ini dikembangkan penggunaannya bagi satelit ruang angkasa. Kini, pemanfaatannya mulai menyebar ke kawasan industri, rumah pribadi,bahkan ke pelosok desa. Tak lama lagi ia diramal akan menjadi sumber energi pada pembangkit tenaga listrik kapasitas besar.Ketika harga minyak pasar internasional mencapai USD60 per barel, minat industri pembangkit tenaga listrik pada sumber energi terbarui semakin membesar. Pertimbangan ekonomi menjadi alasan pertama.Kenyataannya, kini persaingan ini telah terjadi di negara-negara industri, khususnya di sektor industri kecil dan menengah. Menurut Report on World Development yang dirilis Perserikatan Bangsa- Bangsa (1992), kebutuhan energi global dalam 30 tahun ke depan meningkat dua kali lipat per tahun. Pada 40 tahun mendatang, kebutuhan tersebut menjadi tiga kali lipat atau sepadan dengan energi 20 miliar ton minyak bumi.Perkembangan ini ditaksir bakal mahal karena eksploitasi dan eksplorasinya lebih sulit.Ada baiknya kita bayangkan bahwa penggunaan 20 miliar ton energi per tahun itu memerlukan biaya sebesar 4,5 triliun dolar AS. Separuhnya adalah pengeluaran negara-negara berkembang. Indonesia yang setiap tahun disinari energi matahari sebesar 2.500 kilowatt per jam, berpotensi besar untuk keluar dari ketergantungan pada energi fosil seperti BBM. Selain itu, kelebihan energi matahari yang sering diungkapkan adalah pembakarannya tidak menghasilkan CO2,SO2 dan gas racun lainnya. Uraian singkattentangduapembangkitenergi dari sinar matahari,yaitu solar thermal dan photogalvanic berikut ini menggambarkan hal tersebut. Keduanya tidak membutuhkan areal yang luas bagi peralatannya. Ide awal tentang pembangkit tenaga listrik solar thermal sudah sangat tua. Pembangkit listrik pertama dibangun di Mesir pada 1912, tetapi ditutup setelah perang dunia I usai karena rendahnya harga minyak. Prinsipnya sederhana.Sinar matahari diperkuat oleh cermin yang mengalihkannya ke alat penyerap berisi cairan. Cairan ini memanas dan menghasilkan uap yang mem-bangkitkan generator turbo pembangkit tenaga listrik. Di California,Amerika Serikat (AS), alat ini telah mampu menghasilkan 354 Megawatt listrik. Dengan memproduksi secara massal, harga satuan energi matahari ini di AS sekitar Rp100 per kilowatt per jam, lebih murah dibandingkan energi nuklir dan sama dengan energi dari tenaga pembangkit berbahan baku energi fosil. Sementara itu, pengembangan pembangkit listrik photogalvanic berkembang cepat sejak dua dasawarsa terakhir. Harga peralatannya merosot tajam berkat keberhasilan teknologi, padahal kebijakan energi nasional maupun internasional sama sekali tidak mendukung.Subsidi besar-besaran hanya untuk pembangkit tenaga listrik dengan sumber energi fosil dan nuklir. Energi photo electric, pertama kali diungkapkan Edmond Bacquerel pada 1839. Penggunaannya yang terbaru menggunakan sel-sel photogalvanic. Akibat sengatan sinar matahari, sel-sel tersebut melepaskan elektron yang dipaksa berputar dengan dampak terjadinya aliran listrik. Selsel tersebut dikemas dan dijual dalam bentuk modul yang dapat digunakan pada teknologi tegangan tinggi.Awal 1970-an, harga per modul masih sangat mahal, yaitu USD300.000. Kini, harganya sekitar USD5.000. Masih mahal memang.Tetapi melihat pesatnya perkembangan pasar, harganya akan terus menukik turun.Salah satu pasar potensialnya adalah mobil bertenaga listrik yang diramal bakal menjadi mobil massal di abad mendatang. Menilik berbagai kelebihan energi terbarui itu,pertanyaan kemudian timbul, Bagaimanakah cara menunjang pengembangan dan perluasan penggunaan energi ini sehingga sinkron dengan kebijakan energi nasional dan global? Pertama, harus ada diversifikasi penelitian dan pengembangan. Dana penelitian energi ramah lingkungan ini, sayangnya, dari tahun ke tahun menyusut. Di negara-negara industri, hanya sekitar 5% dana penelitian yang diperuntukkan bagi sektor energi.Darinya, sebagian besar untuk jenis energi fosil. Di negara-negara berkembang,termasuk Indonesia, hal tersebut lebih memprihatinkan. Kedua, dengan perkembangan teknologi saat ini, biaya produksi energi terbarui ini bisa bersaing dengan harga energi fosil.Namun,tentu saja, untuk memproduksi energi matahari dengan solar thermal technic dan PV technic dalam kategori massal diperlukan kemauan politik. Ketika Indonesia masih menjadi produsen sekaligus eksportir minyak dan di dalam negeri harga jualnya masih disubsidi, mungkin terkesan tidak realistis untuk mendudukkan energi terbarui pada posisi penting.Namun kini,keadaan sudah sangat mendesak untuk berpikir dan bertindak mengantisipasinya.(*) URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/perlu-alternatif-bbm.html Ivan A. Hadar |
Perlu Alternatif BBM
28 Februari, 2008 oleh Baderi
bagaimana perkembangan energi alternatif lain?
Biodiesel misalnya,,
Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/bisnis_keuangan/perlu_alternatif_bbm/